Kamis, 01 Desember 2011

beragam manfaat pare

Jakarta - Hampir semua orang kenal sayuran ini. Rasa pahit getir menjadi ciri khasnya. Biasa ditumis, dijadikan lalap atau dibuat campuran siomay. Ternyata rasa pahitnya tak membuat orang jera. Bahkan ada sejumlah khasiat hebat dari si pahit ini. 

Pare (momordica charantia) atau dalam bahasa Mandarin 'Khu – khu' yang berarti pahit, merupakan salah satu jenis sayuran yang tumbuh merambat dengan sulur berbentuk spiral. Daunnya berbentuk jari dengan bunga berwarna kuning dan permukaan buahnya berbintik.

Banyak orang tak suka pare, karena rasanya pahit. Pare ternyata mengandung fixed oil, yang menyerupai protein insulin (polipeptida Patau insulin sayuran), glikosida, alkaloid (momordicine), elasterol, danhydroxytryptamine. Juga mengandung asam folat, vitamni (A, C, B1, B12, E), mineral, patotenic acid, lutein, likopen, dan serat. 

Karena nutrisinya yang sarat, tanaman yang berasal dari kawasan Asia ini, memiliki beberapa manfaat baik untuk tubuh, di antaranya: 

Diabetes
Pare mengandung senyawa insulin atau tanaman hipoglikemik yang sangat efektif dalam menjaga naiknya kadar gula dalam darah. Sebab, tanaman ini dikenal dapat meningkatkan intoleransi glukosa pada orang yang terkena serangan dari diabetes millitus atau kencing manis.

Memperlancar aliran darah
Minum jus pare setiap pagi secara rutin bisa membantu memperlancar aliran darah, yang bisa mencegah berbagai jenis penyakit kulit. Seperti, psoriasis dan infeksi jamur (kurap atau kudis), gatal-gatal, bisul serta jerawat.

Sembelit
Pare mengandung selulosa yang bisa mencegah sembelit dan juga baik untuk membantu dalam merangsang sekresi asam lambung. 

Berat badan
Minum dua gelas jus pare yang dicampur susu, tiga kali sehari bisa menggempur lemak tubuh. Karena itu sangat baik dikonsumsi oleh mereka yang sedang berdiet menurunkan berat badan.

Mata
Pare memiliki beta-karoten dalam jumlah yang tinggi, sehingga baik untuk membantu mengurangi masalah penglihatan serta memelihara kesehatan mata.

Mabuk
Jus pare berfungsi untuk membantu menetralkan serta memulihkan tubuh akibat terlalu banyak minum minuman beralkohol atau mabuk.

Kolera
Pare yang dibuat jus dengan bawang merah dan air jeruk nipis bermanfaat untuk mengobati penyakit kolera pada tahap awal.

Kekebalan Tubuh
Jangan takut dengan rasa pahit sayuran satu ini. Sebab, pahitnya berkhasiat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Daya tahan tubuh meningkat dengan makan pare secara teratur.

HIV
Uji laboratorium menunjukkan bahwa senyawa dalam pare mungkin efektif untuk mengobati infeksi HIV. Senyawa enema dari ekstrak pare menunjukkan beberapa manfaat pada orang terinfeksi HIV. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, sebelum dapat direkomendasikan.

(Odi/Odi)
disadur dari detikfood.com

Rabu, 30 November 2011

Sejarah Telkom

Sejarah Telkom
1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).

1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.

1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).

1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.

1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.

1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.

1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.

1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.

1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra – dengan mitra PT Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten – dengan mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta – dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI Kalimantan – dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia – dengan mitra PT Bukaka Singtel.

1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.

2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.

2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
di sadur dari fajardwiputranto-402.tripod.com/sejarah_telkom.htm

Selasa, 29 November 2011

Kata orang sih agak sulit menghargai orang lain. Bisa jadi pendapat ini benar. Karena secara fitrah, manusia selalu ingin “dihargai”, bukan “menghargai”. Artinya, manusia itu benar-benar egosentris. Dia selalu ingin “difahami”, namun jarang sekali berusaha untuk “memahami”. Akibatnya, berat untuk hormat dan menghargai orang lain.


Dalam Islam, sikap menghargai orang lain merupakan identitas seorang Muslim sejati. Seorang yang mengakui dirinya Muslim, ‘wajib’ mampu menghargai orang lain. Baginda Rasulullah SAW menjelaskan, “Tidak termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati mereka yang lebih tua dan tidak mengasihi mereka yang lebih muda darinya, serta tidak mengetahui hak-hak orang berilmu.” (HR. Ahmad).



Menghormati Orangtua…



Siapa saja, yang penting orangtua. Bisa jadi orangtua kita sendiri: ayah dan ibu kita. Atau orang lain: tetangga, kakak, senior di kampus, senior di madrasah, dlsb. Orang yang terbiasa menghargai orang lain adalah indikasi etika (moral) yang baik. Orang yang tidak mau hormat dan menghargai orang yang lebih tua darinya, diancam ‘keluar’ dari koridor Islam. Ia tidak akan dianggap sebagai umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Na‘udzu billah min dzalik!

Menyayangi Orang Muda…


Orangtua wajib menyayangi anak-anaknya. Ini adalah naluri kemanusiaan. Kita seharusnya meniru sikap orangtua kita yang menyayangi kita. Sehingga, kita bisa menjadi pengayom orang yang lebih muda dari kita. Bisa jadi adik kita, junior di sekolah atau di kampus. Atau bisa jadi anak tetangga yang lebih muda dari kita. Kita harus bisa menimbulkan rasa rahmat (kasih-sayang) kita kepada mereka.

Orang yang lebih tua tidak boleh mencerca atau menghina juniornya. Begitu juga sebaliknya. Orang yang suka mencerca dan mencela serta menghina saudaranya mengindikasikan bahwa dia juga sebenarnya “orang hina”, tidak terhormat. Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Hanya orang burung yang menghinakan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim).

Menghargai ‘Ulama’…


Mereka adalah waratsatul anbiyâ’, kata Baginda Rasul. Pewaris para nabi. Mereka mewarisi tugas para nabi: [1] menyampaikan ilmu dan [2] menyampaikan risalah Allah. Maka mereka ‘wajib’ untuk dihormati. Para ulama pun sepakat bahwa ulama yang benar (ilmu dan amalnya) dagingnya ‘haram’ dimakan. Artinya, kehormatannya tidak boleh dicederai. Apalagi jika sampai dicaci-maki. Menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, ulama itu terbagi dua: [1] ulama yang baik (ilmu dan amalnya) dan [2] ulama su’ (jelek atau buruk ilmu dan amalnya). Ulama model kedua ini lah yang tidak layak dihormati dan dihargai.
Menghargai orang lain sebenarnya ‘kunci’ pemikat qalbu. Sehingga orang lain juga terpikat untuk menghargai kita. Tidak ada yang sulit sebenarnya, jika semuanya dikembalikan ke qalbu masing-masing. Jika selama ini kita merasa –selalu–ingin dihormati dan dihargai, di lembah yang sama, orang lain juga ingin diperlakukan demikian. Dengan begitu, egoisme tidak akan muncul. Yang lahir adalah ‘simbiosis mutualisme’: saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai. Itu lah ciri dan identitas umat Nabi Muhammad SAW. Maka belajarlah untuk menghargai orang lain![Q]


disadur dari www.inspirasihati.com/.../171-belajar-menghargai-orang-lain.html

Belajar Menghargai Waktu

efek minum air sambil berdiri

Bila kita minum sambil duduk, air yang kita minum akan disaring oleh sphincter.Sphincter adalah suatu struktur maskuler ( berotot ) yang bisa membuka ( sehingga air kemih dapat lewat ) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.

Nah jika kita minum berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lagi langsung menuju kantung kemih sehingga terjadi pengendapan disaluran ureter. Limbah-limbah ( pengendapan ) yang menyisa diureter inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal yang merupakan salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Salah satu gejalanya adalah susah buang air kecil.

 Cara mengatasinya :
1. Biasakan minum sambil duduk
2. Perbanyak minum air putih
Silahkan dicoba.

Tambahan :
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”
(HR.
Muslim dan Turmidzi)

bersabda Nabi dari Abu Hurairah, 
“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)

Sumber : Cafepojok.com