Saya jadi tertarik menulis di blog ini karena kebiasaan jam karet ternyata juga mudah ditemukan di lingkungan akademis. Betapa undangan rapat begitu biasa “molor” 1 jam. Betapa kuliah atau tutorial seperti “sengaja” dimolorkan beberapa menit. Saya tahu prioritas masing-masing individu itu berbeda, tapi saya yakin kita sama-sama sepakat, waktu yang hilang tidak akan pernah kembali. Dengan kata lain, waktu itu berharga, sodara-sodara…
Saya ingin sedikit cerita bagaimana waktu (seharusnya) dihargai di dunia akademis (di luar negeri, antara lain di Jepang). Ketika janjian pukul 17.00 maka biasanya kita sudah berkumpul 5-10 menit sebelumnya. Hebatnya, semua peserta janjian tersebut memiliki arloji yang menunjukkan jam yang sama, tidak ada yang kelebihan atau mundur beberapa menit. Begitu tet 17.00 acara dimulai, tanpa basa-basi, dan biasanya dimulai dengan kalimat “karena waktu sudah menunjukkan pukul…”. Jika dijadwalkan acara berlangsung selama 2 jam, maka begitu pukul 19.00 acara akan ditutup, tanpa basa basi, tidak peduli seberapa heboh diskusi yang terjadi, dan lagi-lagi diawali dengan kalimat “karena waktu sudah menunjukkan pukul…”.Begitu juga dengan dead-line pengumpulan berkas. Dikumpulkan paling lambat jam 17.00 ya berarti jam 17.00, bukan jam 17.01 apapun alasannya.
Dan masalah on time ini tidak hanya ditemukan di dunia akademis, tapi juga di semua kehidupan. Di Jepang, untuk bertamu ke rumah orang lain, biasanya pakai acara janjian. Ini dilakukan untuk menghargai waktu orang lain. Dan meskipun acaranya hanya dolan untuk ngobrol, tapi datang pasti on time. Telat 1 menit saja sudah cukup untuk membuat yang punya rumah menelpon untuk konfirmasi atau tidak enak hatinya. Uniknya pula, meskipun ngobrolnya seheboh apapun, dalam 1 jam (maksimal 2 jam) mereka akan pamit pulang. Jadi belum pernah saya punya tamu orang Jepang yang ngobrol sampai larut malam atau berjam-jam. (Eittt, bukan berarti semua orang Jepang seperti ini. Kaum muda Jepang mulai banyak yang suka ngobrol berjam-jam). Jam keberangkatan bis/kereta misalnya, jadwalnya sangat aneh untuk saya karena sering “tidak genap”. Sangat umum menjumpai jam bis/kereta berangkat seperti ini: 15.17, 16.23, 12.03, dst. Biasanya, waktu tunggu untuk penumpang berkisar 1 menit. Hanya di stasiun-stasiun besar lebih dari 1 menit. Itu artinya, penumpang yang menunggu bis/kereta, dan tidak ada cerita bis/kereta menunggu penumpang. Itulah kenapa tidak sulit menjumpai kereta/bis jalan dengan keadaan kosong penumpang…
Sekali lagi ini bukan karena gegar budaya. Cerita ilustrasi di Jepang hanya menggambarkan bahwa ada kehidupan seperti itu, dan bisa jalan (kalau mereka bisa kenapa kita tidak?) sekaligus sebagai bahan masukan bagi mereka yang akan pergi ke Jepang (karena waktu itu dianggap sangat penting di Jepang, so, jika kita dianggap tidak menghargai waktu sama saja kita dianggap berperilaku payah). Bayangkan enaknya kalau semua bisa on-time. Kita tidak perlu takut menyusun jadwal kerja, misalnya. Kalau semua on-time semua rencana bisa lancar. Kalau 1 molor, yang lain ikutan molor atau malah harus ada yang dibatalkan.
Lalu bagaimana cara kita belajar menghargai waktu? Belajarlah untuk memulai dan mengakhiri segalanya on-time. Mulai jam 08.00 berarti jam 08.00 bukan 08.01, tidak peduli berapa jumlah yang hadir. Sekali kita mentolerir keterlambatan maka bisa dijamin pertemuan selanjutnya akan lebih molor lagi karena semua berpikiran “toh paling nanti molor…”. Selesai jam 12.00 berarti jam 12.00 tidak peduli seberapa heboh acara tersebut. Kenapa harus diakhiri on-time juga? Ini akan membuat kita belajar menggunakan waktu secara efisien. Rapat yang berlarut-larut sampai subuh sebenarnya tidak hanya menunjukkan bahwa para peserta rapat pekerja keras tapi juga menunjukkan mereka tidak dapat bekerja efisien. Bisa dipastikan isi rapat tersebut banyak debat, ngotot, dan muter-muternya…
Akhir kata, buat mahasiswa saya. Belajarlah menghargai waktu, mumpung masih muda. Saya saja kadang menyesal karena dulu ketika mahasiswa sering membuang-buang waktu begitu saja. Masak harus setua saya dulu baru sadar pentingnya waktu? Kata orang, orang pintar adalah mereka yang tidak mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya, sedangkan orang yang bijaksana adalah mereka yang tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain *smile*. Ohya, saya biasanya menawarkan kepada mahasiswa untuk memilih sendiri jadwal dead-line pengumpulan laporan mereka (dalam batas wajar). Tapi ingat, laporan telat 1 menit menurut jam di lab mikro tidak akan diterima, ya… masak dead-line bikinan sendiri dilanggar sendiri….*smile*.
disadur dari afie.staff.uns.ac.id/2009/04/21/belajar-menghargai-waktu/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar